Mengurus Sendiri SPT 2016

Kantor Pajak Pratama Cibeunying, Bandung

Biasanya sih urusan begini kantor yang handle, tapi kali ini karena ada keperluan penting, saya butuh cepat, sedangkan kalau tunggu kantor yang mengurus, bisa bulan Februari atau Maret. Untungnya mengurusnya gak harus di kantor pajak tertentu, kebetulan ada yang paling dekat dari kantor adalah di Jl. Purnawarman, dekat dengan BEC, yaitu KPP Pratama Bandung Cibeunying. Sebelumnya gue juga pernah mengurus NPWP yang hilang (dicopet bersama dompet), cepet banget, 5 menit kelar! 😀

Sebelum ke kantor Pajak, gue udah tanya-tanya dan minta formulir yang dibutuhkan ke bagian keuangan kantor. Menurut info dia, selain formulir itu, gak perlu bawa apa-apa lagi. Sesampainya di kantor pajak, ternyata semua kertas formulir yang gue bawa tidak terpakai sama sekali, padahal dah ribet disiapin fotokopinya segala.

Jadi sekarang semua diarahkan untuk mengurus pajak via online di www.pajak.go.id, ya bagus kalau begitu, kita gak perlu repot dan capek juga, semoga websitenya selalu stabil ya, hehehe. Tapi walau pun bisa mengurus via website, kayaknya sih tetap aja langkah pertama kita harus ke kantor pajak, untuk membuat yang namanya EFIN, semacam kode untuk kita. Tapi gak tau juga ya apakah membuat EFIN ini bisa online juga.

Formulir Aktivasi EFIN
Formulir Aktivasi EFIN

Beruntungnya lagi petugas di bagian “Helpdesk” sangat baik dan membantu, setelah membuat/mengaktifkan EFIN gue, yang juga formulir pembuatan EFIN ini harus disertakan fotokopi KTP dan NPWP (untung bawa, kalau gue nurut aja dengan info keuangan gue, udah pasti “ZONK” tuh!), gue dibantu isi form. Untuk mefotokopi, lokasinya agak jauh dari kantornya, sayang juga kantor ini gak punya layanan fotokopi.

Cara mengisi formulir di website sangat mudah, cuma memang mungkin bagi yang awam akan sedikit bingung, angka yang mana yang harus diisikan di kolom yang mana, hahaha. Tentu saja pertama kali mendaftar dulu, lalu dapat verifikasi via email, singkat cerita mengisi formulir online selesai, dan gak lama gue langsung dapat SPT 2016 yang gue butuhkan via email juga. Mudah! 😀

Menyusuri Trotoar Dago

Tadi siang gue menuju ke kantor pajak yang beralamat di Jl. Purnawarman, dekat BEC. Seperti biasa, gue lebih memilih  berjalan kaki dari kediaman (kantor) gue yang berada di Jl. Piit, dekat Gasibu dan Gedung Sate.

p_20170126_144343

Ternyata kali ini ketika gue sampai di Jl. Ir. H. Juanda, lalu menyusurinya, perjalanan sangat menyenangkan, karena gue dapati proyek trotoar sudah rampung, jalan kaki pun jadi sangat nyaman, dengan rimbunnya pepohonan, angin yang menyegarkan, seakan makin meringankan tiap langkah kaki *halah*.

p_20170126_144458

Tapi apa yang gue bayangkan, gak perlu waktu lama, paling gak terlihat 3 motor memotong jalan menggunakan trotoar, lalu banyak yang bermain skateboard. Kebetulan pas gue jalan pulang, gue berbarengan dengan sekelompok orang, yang kayaknya orang-orang yang terkait proyek trotoar ini, karena mereka sempat melihat dan membahas lantai trotoar yang pecah, dan baru saja gue dilewati bocah-bocah yang bermain skateboard, ya mungkin pecahnya bukan saat itu, mungkin juga sudah lama, tapi apa yang mengakibatkan bagian yang pecah sedikit itu? 🙂

p_20170126_144624

Ow ya, ada yang menarik gue juga, selain kursi-kursi yang disediakan, yang paling membuat gue melihat dengan seksama adalah adanya ubin-ubin dengan quote-quote para tokoh dunia, seperti Nelson Mandela, Ir. Soekarno, sampai walikota Bandung sendiri, kang Emil. Di perjalanan pulang gue sempat menikmati duduk lama di salah satu kursi, sambil bekerja via smartphone, memang benar-benar nyaman.

 

 

wROCKshop, Workshop Musik Indie Indonesia

Dimulai dari mana, gue juga lupa dapat info ini darimana, sebuah workshop keren banget, dengan bintang tamu performer Endah n Rhesa. Banyak pembicara orang-orang hebat yang sangat berkompeten di bidangnya. Paling tidak, ada 2 musisi yang tak hanya terkenal, tapi juga legenda, yang memancing hasrat gue untuk jauh-jauh menghadiri ajang ini, yaitu Bimbim “Slank” dan Indra “BIP”, ada juga Harry “Koko” Santoso dari Deteksi Production (penggagas Konser 1000 Band). Lokasi workshop pun gak sembarangan, di Hotel Sheraton Grand Gandaria City, berarti yang gue lihat di sini, ini ajang yang sangat bonafide. Hebatnya lagi, baru kali ini pemerintah terlibat dalam pembahasan musik indie di negeri ini.

Akhirnya nekatlah gue berangkat ke Jakarta, karena di hari kerja, hari Rabu tanggal 7 Desember 2016, gue tetap sambil bekerja juga, hehehe. Nekatnya dimulai dari langsung beli tiket kereta api Serayu Pagi, dan Alhamdulillah masih banyak seat kosong. Berangkatlah gue dari kantor jam 11.00 malam, dan kereta berangkat jam 01.00 pagi, sampai di stasiun Jatinegara sekitar jam 04.30, langsung menuju stasiun akhir Kebayoran, dan naik Uber Motor ke lokasi. Disuruh datang jam 07.00, tetap saja gue telat, sekitar 15 menit, tapi tetap donk gue lah peserta pertama yang hadir, hehehe.

Acara dimulai, mungkin jam 9-an. Dibuka dengan penampilan Endah n Rhesa, mereka pun diminta sharing tentang mereka sebagai musisi indie, perjalanan dan proses mereka hingga menjadi seperti sekarang. Lalu dilanjutkan masuk ke sesi pertama, dengan berbagai narasumber, seperti Vidio.com (“Youtube”-nya Indonesia) juga dihadirkan, ada juga dari Be Kraf, yang menekankan tentang musisi indie bisa mendaftarkan karya2nya ke media aplikasi yang mereka buat, yaitu LMKN, dengan mendaftarkan karya kita di sana, karya kita bisa terlindungi, bisa menuntut royalti, dan lain-lain. Tapi yang menarik buat gue di sini adalah ketika mas Koko yang berbicara, karena benar-benar memberi ide, bahkan bisa menjadi solusi buat musisi-musisi indie.

Intinya, workshop ini benar-benar bermanfaat dan menginspirasi, sampai tiba waktunya Indra “BIP” dan Bimbim “Slank” pun berbagi pengalaman, sangat mencerahkan.

Foto dan video lengkap bisa dilihat di album Facebook gue ya, hehehe.

Jalan-jalan ke Jogja Naik Kereta Api ke Bukit Kosakora

Jalan-jalan ke Jogja naik kereta api bagi saya itu adalah hal yang sangat biasa, karena saking seringnya, hehehe. Ya, sejak tinggal di bandung dan bergabung dengan komunitas KLanese (sebutan bagi penggemar KLa Project), saya jadi sangat sering ke Jogja, biasanya kalau ke Jogja saya juga menyempatkan Ke Solo, berwisata kuliner. Dua kota ini cukup menjadi favorit, karena kedua kota ini juga jaraknya sangat dekat, cukup dengan naik kereta Prameks, Jogja-Solo bisa dicapai hanya dengan sekitar 1,5 jam.

14034805_10208260342844547_3158624022470893759_n
Banner konser KLa Project

Jalan-jalan ke Jogja naik kereta api yang terakhir kali, baru saja saya lakukan awal Agustus kemarin. Diawali pancingan ada konser KLa Project di Jogja, namun biasanya saya tidak mengejar konsernya, melainkan gathering dengan KLanese dari berbagai daerah, begitulah rutinitasnya kalau ada konser KLa Project.

Namun kali ini, saya juga mencari motivasi tambahan untuk berangkat ke Jogja, karena terlalu sering, maka saya harus punya tujuan wisata yang bisa menyemangati saya untuk tetap berangkat. Perjalanan ini termasuk spontan, karena beli tiketnya pun dadakan sudah dekat hari keberangkatan. Untuk mencari tiket pesawat pun sudah susah, tiket promo atau murah pasti sudah habis. Maklum saja, saya terbiasa traveling ala backpacker. Kalau dari Bandung, biasanya tiket murah itu ada pada maskapai Lion Air.

Biasanya saya berangkat Jumat malam, sepulang kerja, namun karena saya ingin camping di Bukit Kosakora, saya pun memajukan jadwal saya, jadi Kamis malam. Ya, akhirnya saya menemukan motivasi tujuan wisata, yaitu Bukit Kosakora, yang katanya sedang naik daun.

13903156_10208260281563015_1100261242402871027_n
Sarapan gudeg Yu Djum- Malioboro setelah tiba di Jogja

Berangkatlah saya hari Kamis malam jam 20.00 dari stasiun Kiara Condong – Bandung, tiba di stasiun Lempuyangan – Yogyakarta hari Jumat sekitar jam 04.30 pagi. Bila ingin tahu lebih detil perjalanan saya naik kereta, baca juga Trik Mencari Tiket Kereta yang telah Habis. Karena masih hari kerja, dan saya tidak ambil cuti, maka saya bekerja dulu di kawasan Malioboro, menumpang di salah satu mini market sejuta umat, hahaha, yang penting tempatnya cozy buat berlama-lama.

Saya meminjam motor teman di Jogja, inilah untungnya punya teman dimana-mana, hehehe, paling tidak, akan menambah percaya diri bila kita ke suatu kota, apalagi kalau itu kali pertama. Saya mulai berangkat sekitar jam 4 sore, dengan hujan-hujanan, mengarahkan laju motor ke kawasan wisata Gunung Kidul, yang terkenal dengan jajaran pantai-pantainya yang indah, tentu saja dengan tujuan utama adalah Bukit Kosakora.

Karena berangkatnya saja sudah kesorean, sudah pasti saya sampai di kawasan Gunung Kidul sudah malam, target 2 jam tidak tercapai, hehehe. Saya tiba di parkiran Pantai Drini, karena saya dapat info dari mbah Google kebanyakan pengunjung parkir di Pantai Drini, dan dari Pantai Drini itu dilanjutkan berjalan kaki di jalan setapak yang katanya jaraknya sekitar 1 Km. Ternyata saat pulang saya tidak sengaja menemukan jalan setapak yang jauh lebih pendek jaraknya, langsung keluar ke jalan besar, dan berada di parkiran Pantai Ngrumput. Kedua pantai ini memang bertetangga.

Ow iya, penting saya jelaskan kalau saya solo backpacker *sombong dikit :D*, memang saya terbiasa kemana-mana sendiri saja, seringnya begitu, walaupun kadang juga ramai-ramai dengan teman. Saat saya istirahat di warung dan ngopi yang ada di kawasan parkir Pantai Drini, ada rombongan, sekitar orang 10 pria-pria muda baru datang juga yang katanya dari Solo. Yang tadinya saya sendirian mau diantar oleh bapak penjaga warung menuju ke Bukit Kosakora, akhirnya digabungkan dengan rombongan tadi. Lumayan jadi ramai, kocak, dan seru, hehehe.

Setelah sholat Maghrib dan Isya, rombongan tadi juga ada yang mengisi perut dulu, akhirnya kami pun mulai perjalanan ke Bukit Kosakora. Perjalanan setapak yang sangat gelap dan tidak mudah, menanjak dan pijakan bebatuan yang tajam dan jalan yang tidak rata, penerangan hanya dari senter si Bapak, saya dan beberapa dari rombongan ada yang menyalakan senter dari HP. Melewati pantai Ngrumput, lalu bertemu dengan seorang penjaga *kayak istana aja*, bayar Rp 2000 kalau tidak salah, perjalanan ternyata belum selesai, lanjutkan lebih menanjak curam lagi.

Akhirnya kami tiba di bukit Kosakora, gelap, tanpa penerangan, namun sudah banyak tenda berdiri di sana, dan ternyata yang saya tahu ada warung dan penyewaan tenda pun, ternyata nihil, mungkin karena sudah terlalu malam. Kami pun hanya duduk-duduk saja beralas rumput dan beratap langit. Rintik beberapa kali menetes, rombongan Solo tadi sempat turun karena takut hujan dan tidak punya tenda. Saya tetap nekat tinggal sendirian dalam gelap di bukit Kosakora yang anginnya benar-benar membuai saya untuk terpejam, saat kami sampai pun waktu sudah menunjukkan sekitar jam 21.00 sepertinya.

Ketika saya sudah mau tertidur, tiba-tiba rombongan Solo tadi naik lagi dengan membawa tenda, mereka berhasil menyewa seharga Rp 50.000, lalu menawari saya untuk bergabung tidur di tenda mereka, saya pun mengiyakan kalau nanti benar-benar turun hujan, saya akan ke tenda. Benar saja, setelah rintik beberapa kali, hujan langsung deras, saya langsung masuk ke tenda.

Ternyata tendanya berbahan parasut, yang masih bisa ditembusi air, alhasil tenda bocor dan merembes dari bawah, betapa sengsaranya malam itu, kami tidur dalam keadaan basah dan kehujanan. Salahnya adalah, posisi tenda kami berada di turunan, jadi air hujan mengalir ke arah tenda kami.

13903406_10208216381465540_2320808493127510323_nPagi menyapa, melihat sunset dan sunrise pun gagal, karena pagi itu pun masih mendung bahkan rintik-rintik deras lagi. Tidak lama saya menikmati pagi dan indah pemandangan berpelangi dari bukit Kosakora, saya pun turun karena masih ingin menikmati Pantai Ngrumput dan berenang di Pantai Drini, dan juga agar pulang ke Jogja tidak terlalu siang. Perjalanan saya belum selesai lho… ^_^

Baca juga artikel terkait: