Menyusuri Trotoar Dago

Tadi siang gue menuju ke kantor pajak yang beralamat di Jl. Purnawarman, dekat BEC. Seperti biasa, gue lebih memilih Ā berjalan kaki dari kediaman (kantor) gue yang berada di Jl. Piit, dekat Gasibu dan Gedung Sate.

p_20170126_144343

Ternyata kali ini ketika gue sampai di Jl. Ir. H. Juanda, lalu menyusurinya, perjalanan sangat menyenangkan, karena gue dapati proyek trotoar sudah rampung, jalan kaki pun jadi sangat nyaman, dengan rimbunnya pepohonan, angin yang menyegarkan, seakan makin meringankan tiap langkah kaki *halah*.

p_20170126_144458

Tapi apa yang gue bayangkan, gak perlu waktu lama, paling gak terlihat 3 motor memotong jalan menggunakan trotoar, lalu banyak yang bermain skateboard. Kebetulan pas gue jalan pulang, gue berbarengan dengan sekelompok orang, yang kayaknya orang-orang yang terkait proyek trotoar ini, karena mereka sempat melihat dan membahas lantai trotoar yang pecah, dan baru saja gue dilewati bocah-bocah yang bermainĀ skateboard, ya mungkin pecahnya bukan saat itu, mungkin juga sudah lama, tapi apa yang mengakibatkan bagian yang pecah sedikit itu? šŸ™‚

p_20170126_144624

Ow ya, ada yang menarik gue juga, selain kursi-kursi yang disediakan, yang paling membuat gue melihat dengan seksama adalah adanya ubin-ubin denganĀ quote-quote para tokoh dunia, seperti Nelson Mandela, Ir. Soekarno, sampai walikota Bandung sendiri, kang Emil. Di perjalanan pulang gue sempat menikmati duduk lama di salah satu kursi, sambil bekerja viaĀ smartphone, memang benar-benar nyaman.

 

 

Cerita Berenang di Pantai Drini

Masih melanjutkan kisah perjalanan di Yogyakarta, khususnya Gunung Kidul. Setelah bermalam Bukit Kosakora, lalu paginya turun dan menyempatkan bermain air di Pantai Ngrumput, sekaligus mendokumentasikannya, kini ceritanya berpindah ke Pantai Drini. Melanjutkan perjalanan dari Pantai Ngrumput menuju pantai Drini, mengikuti jalanan aspal menurun, akhir tiba di Pantai Drini.

Ketika tiba di Pantai Drini, kesannya tentu berbeda dari ketika tiba di Pantai Ngrumput. Benar saja apa yang pernah saya tahu dari internet, Pantai Drini ini indah, cukup indah, ditambah lagi dengan pantainya yang dipenuhi saung-saung untuk pengunjung beristirahat atau makan/ minum. Banyak juga warung-warung dan pemandian umum.

Di Pantai Drini ini kita memang kita bisa berenang, di satu sisi pantainya. Kenapa saya bilang di satu sisi? Karena memang bentuk pantainya cukup menarik. Lautnya dari pantai ini memang menyatu, tapi ada satu sisi yang ombaknya tenang, atau lebih tepatnya ombak ini cukup jauh jaraknya dari tepi pantai. Sedangkan sisi satunya memiliki ombak yang sangat ganas yang dari kasat mata saja sudah bisa dilihat betapa berbahayanya bila kita berenang di kondisi ombak liar seperti itu.

Uniknya, di tengah-tengah, di antara kedua sisi pantai yang berbeda ini, air laut mengalir deras, dari sisi yang tenang ke sisi yang ganas. Ketika saya mencoba bermain-main di bagian tengah itu, sekuat tenaga pun saya berenang tetap bisa hanyut terbawa arus.

Pada saat saya sampai pertama kali di Pantai Drini, saya langsung memesan kopi hitam di sebuah warung, seperti sudah kewajiban saya harus ngopi hitam di pagi hari, hehehe *asik*. Setelah memesan kopi, saya pun langsung menjajal laut Pantai Drini ini.

This slideshow requires JavaScript.

Airnya jernih, dasarnya adalah batu, bukan pasir, jadi sama dengan Pantai Ngrumput. Walau ombaknya cukup jauh dari tepi pantai, tapi kita masih bisa menikmati ombak dan bermain-main seru. Saat itu yang berenang hanya saya sendiri, ada pengunjung lain, memilih menikmati bermain perahu, saya tidak mencari tahu berapa harga sewa perahu ini. Ow iya, ternyata bisa kita lihat juga di foto, ternyata di sini bisa memancing juga, entah ikan apa yang dipancing di perairan tepi pantai.

Suasana Pantai Drini begitu enak dan nyaman, sayang saya tidak bisa berlama-lama berenang dan bermain air di sini, karena saya tidak mau terlalu siang sampai di Jogja, karena malamnya juga saya mau menghadiri konser KLa Project, walau pun tidak niat nonton, tapi Alhamdulillah, biasanya ada rezeki nonton gratis, hehehe *thanks a lot to someone of KLanese :p*.

This slideshow requires JavaScript.

Sebenarnya kalau di pantai itu, paling enak berlama-lama, duduk-duduk santai, menikmati pemandangan, mendengarkan desiran ombak, sambil minum air kelapa. Namun apa boleh buat, saya terpaksa harus menyudahi wisata alam ini. Setelah berenang, saya pun mandi di pemandian umum, dan sepertinya setiap warung juga memiliki kamar mandi umum. Sesampainya saya di Pantai Drini juga saya langsung menjemur pakaian saya, karena kehujanan saat bermalam di Bukit Kosakora (silahkan baca juga artikel terkait).

Setelah selesai mandi, sudah rapi, sudah wangi, siap-siap melakukan perjalanan pulang. Lagi-lagi hari tak begitu bersahabat, langit merintikkan air-airnya lagi. Namun bagaimana pun saya tetap ngotot harus pulang, sama ngototnya ketika berangkat dari Jogja sudah kesorean dan hujan-hujanan, hehehe. Setelah perjalanan cukup panjang, sekitar 2 jam, akhirnya saya sampai di Jogja, sesuai target, tepat di waktu makan siang.

Perjalanan berikutnya, saya ingin sekali bisa wisata dan jalan-jalan ke luar Indonesia. BerkatĀ Airpaz, saya dengan mudahnya mencari tiket pesawat harga promo, seperti promo-promo yang biasanya diberikan oleh maskapai Air Asia, Lion Air, Citilink, dan maskapai lainnya.

Baca juga artikel terkait:

  • Jalan-jalan ke Jogja Naik Kereta Api ke BukitĀ Kosakora
  • Lokasi Pantai Ngrumput GunungĀ Kidul



Lokasi Pantai Ngrumput Gunung Kidul

Dimanakah lokasi Pantai Ngrumput Gunung Kidul? Ya di Gunung Kidul, Jogja sonoan banyak, hahaha. Yang pasti di dasar Bukit Kosakora kalau saya bisa bilang. Tentang Bukit Kosakora dan perjalanan serta pengalamannya, udah dibahas di artikel sebelumnya. Karena memang ini saya lakukan dalam satu perjalanan, maka saya langsung lanjutkan saja kisah pengembaraan ini. Karena ini perjalanan yang sama, jadi saya juga tdak perlu cari tiket pesawat lagi dong, apalagi sampai harus pilih maskapai Lion Air atau Air Asia, hehehe.

Setelah mencicip bermalam di Kosakora yang penuh dengan derita, paginya saya langsung turun dari Bukit Kosakora, sebelumnya menyempatkan dulu menikmati pagi hujan dan melihat panorama dari atas. Saat turun, kondisinya masih rintik-rintik, jalanan basah dan sangat licin. Apesnya saya, dari semalam sandal saya selalu dipakai oleh salah seorang dari rombongan Solo (tentang rombongan Solo, baca juga:Ā Jalan-jalan ke Jogja Naik Kereta Api ke BukitĀ Kosakora). Akhirnya terpaksa saya turun dengan bertelanjang kaki, alhasil licinnya bukan main, membuat durasi perjalanan jadi terasa sangat lama.

13932856_10208275575065343_2364118056906991508_n
Foto di sini Rp 2000 (gratis kalau gak ada yang jagain :D)

Beberapa kali saya ngesot-ngesot *kayak suster aja*, dan ada satu kali kaki saya membentur batu pijakan, yang memang tajam-tajam, lumayan, sakitnya tuh di sini *nunjuk telapak kaki*, bahkan sampai di Jogja pun masih terasa nyut-nyutan sedikit. Karena memang dimana-mana, dari pengalaman yang sudah-sudah sebelumnya, lebih sulit saat turun dibandingkan saat kita naik atau memanjat, kecuali kalau ada tali, mungkin labih mudah, seperti panjat dinding/ tebing.

Sepanjang jalan setapak memang untungnya sudah dibuatkan pegangan dari bambu, diwarnai merah putih, di salah satu titik juga ada bendera merah putih, entah apakah kebetulan karena saat saya kesana di bulan Agustus, dan itu baru dicat, entahlah. Tapi bagaimana pun, pegangan itu tetap licin karena hujan, jadi saya tetap menitikberatkan fokus ke kaki, memilih spot-spot pijakan yang kira-kira cukup aman dan tidak licin.

Tips untuk kalian yang mau ke Bukit Kosakora, persiapkanlah semuanya, mulai dari sepatu, tenda, dan perlengkapanĀ camping lainnya, termasuk mungkin obat-obatan serta minyak gosok.

13934816_10208275576265373_1614825901122442880_n
Pasir coklat yang lembut šŸ™‚

Setelah perjuangan turun, akhirnya tiba juga di bawah, dan itu merupakan Pantai Ngrumput. Saya sempatkan bermain air sebentar dan mendokumentasikan pantai ini. Pantai ini menurut saya biasa saja, sangat biasa, tidak bisa buat renang juga, karena dasarnya batu dan juga ombaknya dahsyat.

Menurut info dari si mbah gugel, sebenarnya dari pantai Ngrumput ini bisa langsung menuju ke pantai Drini lewat pantainya. Jadi di saat air surut, akan ada daratan yang bisa kita lalui, tanpa perlu kita lewat jalan setapak yang menyulitkan. Lalu saya juga ingat, saat perjalanan turun dari Bukit Kosakora, saya sempat melihat ada bagian daratan yang tinggi, sehingga masih terlihat walau di sekelilingnya sudah digenangi air laut, karena bagian itu tidak tertutupi oleh air laut.

Segera saja saya selesaikan kegiatan, karena yang saya tahu kalau mau berenang, bisa di Pantai Drini. Maka saya menjumpai orang yang pinjam sandal saya, beruntunglah dia ada di Pantai Ngrumput ini, lalu saya melanjutkan perjalanan. Perjalanan di jalanan setapak, cukup menyulitkan karena tanah yang basah menempel di sandal.

Tanpa sadar saya sepertinya tersasar, tapi ini adalah tersasar yang indah, hahaha, karena tidak seperti semalam, jalannya begitu panjang dan lama. Jalan pulang yang saya lalui ini pendek dan langsung keluar ke jalanan, sempat bertanya juga dengan penduduk setempat yang kebetulan saya lewati. Setelah ketemu jalanan aspal, tinggal dilanjutkan ke bawah menuju ke Pantai Drini.

Baca juga artikel terkait:



Jalan-jalan ke Jogja Naik Kereta Api ke Bukit Kosakora

Jalan-jalan ke Jogja naik kereta api bagi saya itu adalah hal yang sangat biasa, karena saking seringnya, hehehe. Ya, sejak tinggal di bandung dan bergabung dengan komunitas KLanese (sebutan bagi penggemar KLa Project), saya jadi sangat sering ke Jogja, biasanya kalau ke Jogja saya juga menyempatkan Ke Solo, berwisata kuliner. Dua kota ini cukup menjadi favorit, karena kedua kota ini juga jaraknya sangat dekat, cukup dengan naik kereta Prameks, Jogja-Solo bisa dicapai hanya dengan sekitar 1,5 jam.

14034805_10208260342844547_3158624022470893759_n
Banner konser KLa Project

Jalan-jalan ke Jogja naik kereta api yang terakhir kali, baru saja saya lakukan awal Agustus kemarin. Diawali pancingan ada konser KLa Project di Jogja, namun biasanya saya tidak mengejar konsernya, melainkanĀ gathering dengan KLanese dari berbagai daerah, begitulah rutinitasnya kalau ada konser KLa Project.

Namun kali ini, saya juga mencari motivasi tambahan untuk berangkat ke Jogja, karena terlalu sering, maka saya harus punya tujuan wisata yang bisa menyemangati saya untuk tetap berangkat. Perjalanan ini termasuk spontan, karena beli tiketnya pun dadakan sudah dekat hari keberangkatan. Untuk mencari tiket pesawat pun sudah susah, tiket promo atau murah pasti sudah habis. Maklum saja, saya terbiasa traveling ala backpacker. Kalau dari Bandung, biasanya tiket murah itu ada pada maskapai Lion Air.

Biasanya saya berangkat Jumat malam, sepulang kerja, namun karena saya inginĀ camping di Bukit Kosakora, saya pun memajukan jadwal saya, jadi Kamis malam. Ya, akhirnya saya menemukan motivasi tujuan wisata, yaitu Bukit Kosakora, yang katanya sedang naik daun.

13903156_10208260281563015_1100261242402871027_n
Sarapan gudeg Yu Djum- Malioboro setelah tiba di Jogja

Berangkatlah saya hari Kamis malam jam 20.00 dari stasiun Kiara Condong – Bandung, tiba di stasiun Lempuyangan – Yogyakarta hari Jumat sekitar jam 04.30 pagi. Bila ingin tahu lebih detil perjalanan saya naik kereta, baca juga Trik Mencari Tiket Kereta yang telah Habis. Karena masih hari kerja, dan saya tidak ambil cuti, maka saya bekerja dulu di kawasan Malioboro, menumpang di salah satu mini market sejuta umat, hahaha, yang penting tempatnyaĀ cozy buat berlama-lama.

Saya meminjam motor teman di Jogja, inilah untungnya punya teman dimana-mana, hehehe, paling tidak, akan menambah percaya diri bila kita ke suatu kota, apalagi kalau itu kali pertama. Saya mulai berangkat sekitar jam 4 sore, dengan hujan-hujanan, mengarahkan laju motor ke kawasan wisata Gunung Kidul, yang terkenal dengan jajaran pantai-pantainya yang indah, tentu saja dengan tujuan utama adalah Bukit Kosakora.

Karena berangkatnya saja sudah kesorean, sudah pasti saya sampai di kawasan Gunung Kidul sudah malam, target 2 jam tidak tercapai, hehehe. Saya tiba di parkiran Pantai Drini, karena saya dapat info dari mbah Google kebanyakan pengunjung parkir di Pantai Drini, dan dari Pantai Drini itu dilanjutkan berjalan kaki di jalan setapak yang katanya jaraknya sekitar 1 Km. Ternyata saat pulang saya tidak sengaja menemukan jalan setapak yang jauh lebih pendek jaraknya, langsung keluar ke jalan besar, dan berada di parkiran Pantai Ngrumput. Kedua pantai ini memang bertetangga.

Ow iya, penting saya jelaskan kalau saya solo backpacker *sombong dikit :D*, memang saya terbiasa kemana-mana sendiri saja, seringnya begitu, walaupun kadang juga ramai-ramai dengan teman. Saat saya istirahat di warung dan ngopi yang ada di kawasan parkir Pantai Drini, ada rombongan, sekitar orang 10 pria-pria muda baru datang juga yang katanya dari Solo. Yang tadinya saya sendirian mau diantar oleh bapak penjaga warung menuju ke Bukit Kosakora, akhirnya digabungkan dengan rombongan tadi. Lumayan jadi ramai, kocak, dan seru, hehehe.

Setelah sholat Maghrib dan Isya, rombongan tadi juga ada yang mengisi perut dulu, akhirnya kami pun mulai perjalanan ke Bukit Kosakora. Perjalanan setapak yang sangat gelap dan tidak mudah, menanjak dan pijakan bebatuan yang tajam dan jalan yang tidak rata, penerangan hanya dari senter si Bapak, saya dan beberapa dari rombongan ada yang menyalakan senter dari HP. Melewati pantai Ngrumput, lalu bertemu dengan seorang penjaga *kayak istana aja*, bayar Rp 2000 kalau tidak salah, perjalanan ternyata belum selesai, lanjutkan lebih menanjak curam lagi.

Akhirnya kami tiba di bukit Kosakora, gelap, tanpa penerangan, namun sudah banyak tenda berdiri di sana, dan ternyata yang saya tahu ada warung dan penyewaan tenda pun, ternyata nihil, mungkin karena sudah terlalu malam. Kami pun hanya duduk-duduk saja beralas rumput dan beratap langit. Rintik beberapa kali menetes, rombongan Solo tadi sempat turun karena takut hujan dan tidak punya tenda. Saya tetap nekat tinggal sendirian dalam gelap di bukit Kosakora yang anginnya benar-benar membuai saya untuk terpejam, saat kami sampai pun waktu sudah menunjukkan sekitar jam 21.00 sepertinya.

Ketika saya sudah mau tertidur, tiba-tiba rombongan Solo tadi naik lagi dengan membawa tenda, mereka berhasil menyewa seharga Rp 50.000, lalu menawari saya untuk bergabung tidur di tenda mereka, saya pun mengiyakan kalau nanti benar-benar turun hujan, saya akan ke tenda. Benar saja, setelah rintik beberapa kali, hujan langsung deras, saya langsung masuk ke tenda.

Ternyata tendanya berbahan parasut, yang masih bisa ditembusi air, alhasil tenda bocor dan merembes dari bawah, betapa sengsaranya malam itu, kami tidur dalam keadaan basah dan kehujanan. Salahnya adalah, posisi tenda kami berada di turunan, jadi air hujan mengalir ke arah tenda kami.

13903406_10208216381465540_2320808493127510323_nPagi menyapa, melihat sunset dan sunrise pun gagal, karena pagi itu pun masih mendung bahkan rintik-rintik deras lagi. Tidak lama saya menikmati pagi dan indah pemandangan berpelangi dari bukit Kosakora, saya pun turun karena masih ingin menikmati Pantai Ngrumput dan berenang di Pantai Drini, dan juga agar pulang ke Jogja tidak terlalu siang. Perjalanan saya belum selesai lho… ^_^

Baca juga artikel terkait: