Cerita Berenang di Pantai Drini

Masih melanjutkan kisah perjalanan di Yogyakarta, khususnya Gunung Kidul. Setelah bermalam Bukit Kosakora, lalu paginya turun dan menyempatkan bermain air di Pantai Ngrumput, sekaligus mendokumentasikannya, kini ceritanya berpindah ke Pantai Drini. Melanjutkan perjalanan dari Pantai Ngrumput menuju pantai Drini, mengikuti jalanan aspal menurun, akhir tiba di Pantai Drini.

Ketika tiba di Pantai Drini, kesannya tentu berbeda dari ketika tiba di Pantai Ngrumput. Benar saja apa yang pernah saya tahu dari internet, Pantai Drini ini indah, cukup indah, ditambah lagi dengan pantainya yang dipenuhi saung-saung untuk pengunjung beristirahat atau makan/ minum. Banyak juga warung-warung dan pemandian umum.

Di Pantai Drini ini kita memang kita bisa berenang, di satu sisi pantainya. Kenapa saya bilang di satu sisi? Karena memang bentuk pantainya cukup menarik. Lautnya dari pantai ini memang menyatu, tapi ada satu sisi yang ombaknya tenang, atau lebih tepatnya ombak ini cukup jauh jaraknya dari tepi pantai. Sedangkan sisi satunya memiliki ombak yang sangat ganas yang dari kasat mata saja sudah bisa dilihat betapa berbahayanya bila kita berenang di kondisi ombak liar seperti itu.

Uniknya, di tengah-tengah, di antara kedua sisi pantai yang berbeda ini, air laut mengalir deras, dari sisi yang tenang ke sisi yang ganas. Ketika saya mencoba bermain-main di bagian tengah itu, sekuat tenaga pun saya berenang tetap bisa hanyut terbawa arus.

Pada saat saya sampai pertama kali di Pantai Drini, saya langsung memesan kopi hitam di sebuah warung, seperti sudah kewajiban saya harus ngopi hitam di pagi hari, hehehe *asik*. Setelah memesan kopi, saya pun langsung menjajal laut Pantai Drini ini.

This slideshow requires JavaScript.

Airnya jernih, dasarnya adalah batu, bukan pasir, jadi sama dengan Pantai Ngrumput. Walau ombaknya cukup jauh dari tepi pantai, tapi kita masih bisa menikmati ombak dan bermain-main seru. Saat itu yang berenang hanya saya sendiri, ada pengunjung lain, memilih menikmati bermain perahu, saya tidak mencari tahu berapa harga sewa perahu ini. Ow iya, ternyata bisa kita lihat juga di foto, ternyata di sini bisa memancing juga, entah ikan apa yang dipancing di perairan tepi pantai.

Suasana Pantai Drini begitu enak dan nyaman, sayang saya tidak bisa berlama-lama berenang dan bermain air di sini, karena saya tidak mau terlalu siang sampai di Jogja, karena malamnya juga saya mau menghadiri konser KLa Project, walau pun tidak niat nonton, tapi Alhamdulillah, biasanya ada rezeki nonton gratis, hehehe *thanks a lot to someone of KLanese :p*.

This slideshow requires JavaScript.

Sebenarnya kalau di pantai itu, paling enak berlama-lama, duduk-duduk santai, menikmati pemandangan, mendengarkan desiran ombak, sambil minum air kelapa. Namun apa boleh buat, saya terpaksa harus menyudahi wisata alam ini. Setelah berenang, saya pun mandi di pemandian umum, dan sepertinya setiap warung juga memiliki kamar mandi umum. Sesampainya saya di Pantai Drini juga saya langsung menjemur pakaian saya, karena kehujanan saat bermalam di Bukit Kosakora (silahkan baca juga artikel terkait).

Setelah selesai mandi, sudah rapi, sudah wangi, siap-siap melakukan perjalanan pulang. Lagi-lagi hari tak begitu bersahabat, langit merintikkan air-airnya lagi. Namun bagaimana pun saya tetap ngotot harus pulang, sama ngototnya ketika berangkat dari Jogja sudah kesorean dan hujan-hujanan, hehehe. Setelah perjalanan cukup panjang, sekitar 2 jam, akhirnya saya sampai di Jogja, sesuai target, tepat di waktu makan siang.

Perjalanan berikutnya, saya ingin sekali bisa wisata dan jalan-jalan ke luar Indonesia. Berkat Airpaz, saya dengan mudahnya mencari tiket pesawat harga promo, seperti promo-promo yang biasanya diberikan oleh maskapai Air Asia, Lion Air, Citilink, dan maskapai lainnya.

Baca juga artikel terkait:

  • Jalan-jalan ke Jogja Naik Kereta Api ke Bukit Kosakora
  • Lokasi Pantai Ngrumput Gunung Kidul



Advertisements

Lokasi Pantai Ngrumput Gunung Kidul

Dimanakah lokasi Pantai Ngrumput Gunung Kidul? Ya di Gunung Kidul, Jogja sonoan banyak, hahaha. Yang pasti di dasar Bukit Kosakora kalau saya bisa bilang. Tentang Bukit Kosakora dan perjalanan serta pengalamannya, udah dibahas di artikel sebelumnya. Karena memang ini saya lakukan dalam satu perjalanan, maka saya langsung lanjutkan saja kisah pengembaraan ini. Karena ini perjalanan yang sama, jadi saya juga tdak perlu cari tiket pesawat lagi dong, apalagi sampai harus pilih maskapai Lion Air atau Air Asia, hehehe.

Setelah mencicip bermalam di Kosakora yang penuh dengan derita, paginya saya langsung turun dari Bukit Kosakora, sebelumnya menyempatkan dulu menikmati pagi hujan dan melihat panorama dari atas. Saat turun, kondisinya masih rintik-rintik, jalanan basah dan sangat licin. Apesnya saya, dari semalam sandal saya selalu dipakai oleh salah seorang dari rombongan Solo (tentang rombongan Solo, baca juga: Jalan-jalan ke Jogja Naik Kereta Api ke Bukit Kosakora). Akhirnya terpaksa saya turun dengan bertelanjang kaki, alhasil licinnya bukan main, membuat durasi perjalanan jadi terasa sangat lama.

13932856_10208275575065343_2364118056906991508_n
Foto di sini Rp 2000 (gratis kalau gak ada yang jagain :D)

Beberapa kali saya ngesot-ngesot *kayak suster aja*, dan ada satu kali kaki saya membentur batu pijakan, yang memang tajam-tajam, lumayan, sakitnya tuh di sini *nunjuk telapak kaki*, bahkan sampai di Jogja pun masih terasa nyut-nyutan sedikit. Karena memang dimana-mana, dari pengalaman yang sudah-sudah sebelumnya, lebih sulit saat turun dibandingkan saat kita naik atau memanjat, kecuali kalau ada tali, mungkin labih mudah, seperti panjat dinding/ tebing.

Sepanjang jalan setapak memang untungnya sudah dibuatkan pegangan dari bambu, diwarnai merah putih, di salah satu titik juga ada bendera merah putih, entah apakah kebetulan karena saat saya kesana di bulan Agustus, dan itu baru dicat, entahlah. Tapi bagaimana pun, pegangan itu tetap licin karena hujan, jadi saya tetap menitikberatkan fokus ke kaki, memilih spot-spot pijakan yang kira-kira cukup aman dan tidak licin.

Tips untuk kalian yang mau ke Bukit Kosakora, persiapkanlah semuanya, mulai dari sepatu, tenda, dan perlengkapan camping lainnya, termasuk mungkin obat-obatan serta minyak gosok.

13934816_10208275576265373_1614825901122442880_n
Pasir coklat yang lembut 🙂

Setelah perjuangan turun, akhirnya tiba juga di bawah, dan itu merupakan Pantai Ngrumput. Saya sempatkan bermain air sebentar dan mendokumentasikan pantai ini. Pantai ini menurut saya biasa saja, sangat biasa, tidak bisa buat renang juga, karena dasarnya batu dan juga ombaknya dahsyat.

Menurut info dari si mbah gugel, sebenarnya dari pantai Ngrumput ini bisa langsung menuju ke pantai Drini lewat pantainya. Jadi di saat air surut, akan ada daratan yang bisa kita lalui, tanpa perlu kita lewat jalan setapak yang menyulitkan. Lalu saya juga ingat, saat perjalanan turun dari Bukit Kosakora, saya sempat melihat ada bagian daratan yang tinggi, sehingga masih terlihat walau di sekelilingnya sudah digenangi air laut, karena bagian itu tidak tertutupi oleh air laut.

Segera saja saya selesaikan kegiatan, karena yang saya tahu kalau mau berenang, bisa di Pantai Drini. Maka saya menjumpai orang yang pinjam sandal saya, beruntunglah dia ada di Pantai Ngrumput ini, lalu saya melanjutkan perjalanan. Perjalanan di jalanan setapak, cukup menyulitkan karena tanah yang basah menempel di sandal.

Tanpa sadar saya sepertinya tersasar, tapi ini adalah tersasar yang indah, hahaha, karena tidak seperti semalam, jalannya begitu panjang dan lama. Jalan pulang yang saya lalui ini pendek dan langsung keluar ke jalanan, sempat bertanya juga dengan penduduk setempat yang kebetulan saya lewati. Setelah ketemu jalanan aspal, tinggal dilanjutkan ke bawah menuju ke Pantai Drini.

Baca juga artikel terkait: